Tampilkan postingan dengan label tempat ziarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tempat ziarah. Tampilkan semua postingan

Gereja Paroki Santa Maria Lourdes Promasan

Karena tidak ke gua Maria yang baru kali ini kita bahas gereja Santa Maria Lourdes Promasan aja ya.. berkali-kali ke sendangsono kita baru pertamaxkali ke gereja promasan malahan ( ndeso banget yo? ) bagusnya gereja ( nang ndeso ) pintunya tak perna dikunci,,jadi siapa aja yang dateng tinggal buka dan bisa langsung berdoa gak perlu tunggu ada misa ni yang ane paling suka dari gereja2 di desa...nah langsung aja nikmatin secuil info gereja ini dan fotonya.. scroll bro scrollllllll......


Sejarah lahirnya Paroki Promasan merupakan kelanjutan dan perkembangan dari Pastoran dan Paroki Santa Theresia Lieseux Boro pada tahun 1930 serta peristiwa pembaptisan 173 orang di Sendangsono tanggal14 Desember 1904.
Bermula dari benih-benih iman kristiani yang ditaburkan di sekitar Kalibawang, tumbuh dan berkembanglah umat Katolik di Promasan. Pada tanggal 20 Mei 1904, bertepatan dengan Rari Raya Pentakosta, empat orang dari sekitar Kalibawang dibaptis oleh Romo F. van Lith, SJ di Muntilan. Keempat orang tersebut lalu memperkenalkan ajaran iman kristiani. Berkat jasa keempat orang tersebut, iman kristiani di sekitar Kalibawang terutama Sendangsono berkembang. Salah satu dari keempat orang baptisan pertama tersebut adalah Bapak Barnabas Sarikromo. Bapak Barnabas Sarikromo berkeliling di sekitar Promasan, Tuksongo, Semagung, Kajoran, Kalisentul dan Kerug untuk mengajar agama ("wulangan agama"). Berkat usaha dan perjuangan Bapak Barnabas, pada tanggal 14 Desember 1904, 173 orang dibaptis di Sendangsono. Mereka yang dibaptis berasal dari lingkungan Tuksongo, Semagung dan Kajoran. Karena pengabdiannya pula, Paus menganugerahkan penghargaan yang besar. Beliau menjadi tokoh besar dalam pengembangan iman kristiani di Kalibawang. Setelah peristiwa pembaptisan terhadap 173 orang tersebut, iman kristiani berkembang pesat. Mereka yang dibaptis tahun 1904 tersebut, tiap hari Sabtu pergi ke Muntilan untuk ikut pelajaran agama dan pada hari Minggu pagi merayakan Ekaristi di gereja Muntilan. Karena perkembangan yang menggembirakan dan untuk melayani umat, pihak misi mengutus Romo Groenwegen SJ menggembalakan umat di sekitar Kalibawang. Tahun 1914 Romo Groenwegen SJ memimpin Perayaan Ekaristi di Kajoran. Pada tahun 1918, Romo Groenwegen SJ mendirikan Sekolah Rakyat di Ploso. Pembangunan selesai tahun 1922. Selain untuk sekolah, Sekolah Rakyat di Ploso juga digunakan untuk merayakan Ekaristi hari Minggu.
Pada tahun 1923 Kalibawang ditetapkan sebagai stasi dari Mendut. Meskipun bagian dari Mendut, tetapi karena alasan ekonomi dan kemudahan, mereka merayakan Ekaristi Gereja Muntilan.
Pada tahun 1924 - 1935, Kalibawang digembalakan oleh Romo Prennthaler SJ. Agar pembinaan iman umat makin efektip, Romo Prennthaler SJ membentuk pamomong (=ketua lingkungan sekarang) untuk Promasan dan Boro. Beliau juga merintis pembangunan Gereja di Promasan.
Karya Romo Prennthaler SJ dilanjutkan oleh Rm. Teppema SJ dan Romo Jasawihardja SJ. Usaha merintis pendirian Gereja dilanjutkan oleh Romo Jasawihardja SJ yang bertugas di Promasan. Pembangunan Gereja berlangsung dari tahun 1937-1940. Akhimya, pada tanggal 18 Desember 1940 Gereja Promasan diresmikan oleh Mgr. Soegijapranata, SJ dan berlindung pada Santa Maria Yang Menampakkan Diri di Lourdes.
Dalam rangka pembinaan umat serta memenuhi kebutuhan Gereja dan Romo, dibentuklah Aksi Katolik (semacam DP jaman sekarang). Aksi Katolik ini terdiri dari guru agama, pamomong dan pemuka umat. Mereka mengadakan rapat satu lapan sekali tiap Minggu Wage.
Sampai tahun 1958, Promasan merupakan stasi dari Paroki Boro. Tanggal 1 Januari 1959, Promasan ditetapkan sebagai paroki. Sejak saat itu pula, semua administrasi diurus dan dicacat oleh Paroki Promasan.
Tahun 1971-1973, sebagian wilayah Paroki Promasan yaitu Kerugmunggang dan Kenalan bergabung dengan Paroki Mertoyudan. Karena ada kekosongan pastor di Borobudur, tahun 1973, Kerugmunggang dan Kenalan dikembalikan lagi ke Paroki Promasan. Keputusan Kerugmunggang dan Kenalan dikembalikan ke Promasan tertuang dalam Garis Kebijakan KAS mengenai Paroki Borobudur No: 1063/B/I/s/73. Pada waktu itu Paroki Promasan dibagi menjadi 25 kring dengan 8 wilayah.
Sejak tahun 1981, Paroki Promasan mulai memikirkan lingkungan-­lingkungan. Maka mulailah membangun kapel sebagai sarana pengembangan iman umat. Selama penggembalaan Romo VM. Kartasudarma Pr, proses pembangunan kapel mendekati tahap selesai. Sekarang ini ada 11 kapel tersebar di lingkungan dan wilayah yang ada di Paroki Promasan. Selain pengembangan sarana ibadah, umat juga diajak untuk membentuk dan mengembangkan lingkungan yang kuat dan mandiri. Pembenahan administrasi lingkungan menjadi salah satu bentuk pengembangan kekuatan dan kemandirian lingkungan. Dalam rangka pembinaan iman umat agar makin efektip, sejak tahun 1993 ada pelayanan Perayaan Ekaristi di wilayah-wilayah tiap 2 minggu sekali. Selain itu juga dikembangkan pemberdayaan umat dan pelestarian lingkungan alam sekitar. Mengingat sebagian besar umat Paroki Promasan bertani, dikembangkanlah sektor sosial dan gerakan tani lestari. Pengembangan sektor sosial ekonomi ditandai dengan gerakan menanam tanaman keras seperti buah-buahan dan pohon-pohon. Seiring dengan menurunnya produktivitas pangan juga dikembang-kan gerakan tani lestari dengan perhatian utama pada konservasi lahan.
Seturut dengan Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang mencanangkan Arah Dasarnya, Paroki Promasan juga ikut aktif dalam mengejawantahkan Arah Dasar KAS sesuai dengan keadaan Paroki. Secara khusus, sejak tahun 1999, Paroki Promasan mengembangkan diri sebagai Paroki mandiri yang seutuhnya. Salah satu usaha yang ditempuh adalah gerakan untuk tidak bergantung pada donatur. Sejalan dengan hal itu dikembangkan pemberdayaan umat lingkungan dan penguatan ekonomi. Maka tahun 2000, Paroki Promasan mendirikan Koperasi Kredit dalam rangka mendidik umat agar tidak bergantung sepenuhnya pada donatur atau paroki. Sejak itu, juga dikembangkan Gereja yang hidup dengan perhatian pada penguatan paguyuban-paguyuban dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi tumbuhnya paguyuban-paguyuban baru. Karena jumlah umat makin banyak, dalam setiap lingkungan dibentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri antara 15-20 KK. Kelompok-ke1ompok ini sering disebut kelompok Doa. Meskipun demikian, kegiatannya tidak hanya sebatas doa bersama tetapi juga berkaitan dengan sosial kemasyarakatan. Sebagai wujud pemberdayaan umat juga dikembangkan transparansi keuangan. Semua usaha yang dilakukan tersebut dalam rangka pendidikan iman. 


 Sumber : dari berbagai sumber
Foto : dok. pribadi
model : miko kembali gagal anu & Admin.. ( foto sing ngisor 2 jane meh maling asune asline wkkakakakakak )

GM Pereng,getas

 Lama gak update,,,admin cuma mau update GM MARIA getas




                                               


Foto : dok. pribadi
Model : admin & miko kembali gagal anu
wkakakakakakakakakak 

Gua Maria Grabag



Nah sekarang kita ikuti perjalanan Benu Miko & admin ke Gua Maria Grabag Magelang.. Pertamakali cari ni GM Benu miko & mimin sempet bingung karena tak tampak seperti GM lainnya,setelah muter-muter dan kesasar khas Benu Miko & mimin nemuin juga ni GM,,ternyata lokasinya berada di belakang kapel dan memang tidak terlihat. GM yang paling sederhana yang pernah Benu miko & mimin kunjungi. Selain karena gua yang kecil,disini juga tak tampak kehidupan sama sekali seperti tempat ziarah lainnya..bahkan tak ada penunggunya! Bagaimana cerita GM ini?? Mari kita saksikan bersama dibawah ini,,dalangnya capek penontonnya juga capek kalo malah ngomong tak jelas khas mimin wkwkwkwk....
NB. kali ini yang mimin pasang foto Benu miko,ntar admin dibilang narsis kalo yang dipasang foto admin terus hehee...

Di sebuah daerah bernama Grabag, sebelah utara Kota Secang, saat itu kami berkunjung. Di sanalah sebuah Gua Maria diberkati oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo, Pr., tertanggal 23 Juli 2005.

 Sekilas Umat
Gua Maria Grabag… mungkin ini kali pertama kami atau Anda mendengarnya. Gua Maria di Grabag, apa ada? Di Grabag ada Gua Maria, mana mungkin? Mungkin itu yang terbersit kali pertama mendapat kabarnya. Namun, bolehlah kami memulai berbagi cerita tentangnya, karena ketakjuban yang tiada tara boleh sejenak kami rasakan di sana.

Yang bisa kami ceritakan tentang umat di Grabag, jumlahnya tidaklah banyak, kurang lebih 25 kepala keluarga. Tidak begitu banyak bukan …, namun cukuplah untuk menjadi sebuah wilayah tersendiri dari Paroki Santa Maria Fatima Magelang. Saat ini, sebagian besar umat di Grabag adalah para pendatang. Kekhasan para pendatang ini menjadi api yang sekiranya memberi nyala bagi jemaat perdana yang mulai agak redup. Ibarat lilin-lilin kecil kini mulai berkumpul, maka kegelapan di sekitar pun mulai sirna.

Kiranya terang lilin-lilin ini tidak menampakkan KEMEWAHAN, melainkan KESEDERHANAAN. Sebab, terangnya mulai dapat dinikmati jika ada dalam kegelapan. Bisalah Anda bayangkan sendiri…, bagaimana terang itu tidaklah menyilaukan, melainkan mengajak rasa iman tiap-tiap umat Allah untuk bernaung dan mencecap ketenteraman dan kesyahduannya. Ini sungguh-sungguh berkat Allah … Adalah Malam Jumat Kliwon tidak lagi membuat bulu kuduk berdiri dan kita pun lari, tapi malah dihampiri untuk bersama-sama dinikmati dalam kelimpahan rahmat Ilahi. Hal ini juga terjadi pada bulan Oktober maupun Mei. Rasanya hanya satu pengikat komunitas iman ini, yakni: Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus, yang jelas tertera di dinding sebagai pengakuan dan pengukuhannya oleh Uskup Agung Semarang pada hari Sabtu Legi.

Pemaknaan…
Menyoal Sabtu Legi, muncul sepercik pencerahan. Rasa Jawa pasti hendak memahami makna hari Sabtu Legi. Namun, rasa Kristiani akan mendasarinya dengan terang ilahi. Muncullah pemaknaan. Sabtu Legi bolehlah dimaknai Sabda Tuhan. Legi dimengerti sebagai manis. Maka, Sabtu Legi tiada lain adalah Sabda Tuhan yang Manis. Ya… Sabda Tuhan memang manis, saat kami sadar bahwa Sabda itu berwujud dalam kehangatan tegur sapa umat setempat di suasana alam yang dingin. Bukan tidak mungkin bahwa kehangatan tersebut merupakan aktualisasi rasa iman yang mendalam, bersumber pada kesederhanaan cinta akan Allah dalam doa bersama Sang Bunda.

Butir demi butir doa dalam rosario bersama Sang Bunda, membawa kita pada pengalaman iman akan salib Kristus. Maka, salib rosario tidak hanya salib kecil, melainkan sungguh-sungguh salib rosario itu berwujud salib besar. Di sanalah kita diajak memahami inti salib Kristus sambil mengumandangkan doa rosario bersama Sang Bunda. Jadi, benarlah fakta. Patung Sang Bunda membawa rosario tak bersalib, namun ia sungguh berdampingan dengan salib Kristus

 Bersua Hyang Putra dan Sang Bunda
Seperti yang terungkap pada awal tutur ini, jumlah umat disini hanya 25 kepala keluarga dan mereka semua adalah pendatang. Jangan bertanya mengapa mereka bisa “terdampar” di daerah ini. Karena itulah rencana Sang Khalik. Mereka yang disatukan oleh iman akan Salib yang menyelamatkan itu kemudian berkumpul. Dari semangat doa itulah mereka berniat membangun sebuah sekolah.

Sekolah yang diberi nama SMP Pendowo Grabag didirikan pada tahun 1982, menjadi saksi kerasulan mereka di tengah dunia. Tetapi sayang sekolah ini sekarang tidak lagi beroperasi. Mengapa? Karena berdiri sebuah gereja di sebelahnya! Prasangkalah yang membuat sekolah ini tidak bisa lagi menjadi terang bagi sesamanya. Sungguh sangat disayangkan… Tanah yang masih luas di sekitar sekolah membuat mereka memberanikan diri mewujudkan rumah doa.

Pendirian Kapel Santo Yusuf akhirnya dimulai. Tentu saja dengan izin dan proses yang lama, seperti biasanya. Pembangunan itu tentunya tidak semudah seperti penuturan kisah ini tentunya. Karena dari penuturan Ibu Ch. Maryanti, saat rumah Allah ini akan dibangun, penolakan, pelemparan batu, dan ancaman pembakaran meneror umat Allah di daerah Grabag. Sisa lemparan masih dapat kita lihat di kaca depan kapel. Tetapi surutkah mereka? TIDAK! Dengan kepasrahan dan doa, mereka serahkan semua kehadirat Gusti Dalem. Mereka betul - betul menyadari inilah salib mereka dan akan mereka tanggung bersama.

 Tahun 1991 Kapel Santo Yusuf Stasi Grabag mulai dibangun. Pendirian rumah bagi Sang Putra kini sudah paripurna, tetapi justru itulah awal perjalanan umat Stasi Grabag memasuki babak baru peziarahan iman mereka. Merawat, melestarikan, dan menghidupi kekatolikan mereka agar tetap subur di tengah semak dan duri, itulah salib mereka yang baru. Ya, itulah salib. Bukan beban. Salib harus kita pikul dengan kepasrahan dan kerelaan, serta dengan segala harapan bahwa Tuhan juga memiliki rencana yang indah saat kita dirasa cukup memikul salib kita di dunia. Itu jauh lebih sulit dari sebelumnya, tetapi jangan khawatir Saudaraku, seluruh Gereja umat Allah akan membantumu dengan darasan doa.

Keinginan memperindah rumah Allah itu pun tidak berhenti, selain itu kerinduan pada Sang Bunda juga mengelayuti hati umat Gereja diaspora ini. Dengan bantuan dari berbagai pihak pembangunan Gua Maria Grabag dimulai pada Oktober 2002 dan diresmikan pada 23 Juli 2005 oleh Mgr. Ign. Suharyo, Pr. Memang tanah di sekitar gua ini sangat besar karena menyatu dengan SMP Pendowo Grabag dan Kapel Santo Yusuf, tetapi Gua Maria itu sendiri sangatlah kecil, mungkin hanya berukuran 10 x 10 meter.


Udara yang asri dan sejuk serta tempat yang belum banyak dikunjungi orang inilah yang membuat suasana menjadi khusyuk dan hening. Banyak kisah menarik selanjutnya yang terjadi di sini. Seperti cahaya biru yang muncul saat pengambilan gambar patung Sang Bunda, bisikan Gusti Dalem pada Ibu Ch. Maryanti, dan berbagai hal yang membuat decak kagum dan merinding ketika mendengar kisah sederhana nan menakjubkan itu. Kami tidak akan banyak bertutur di sini, biarlah Anda merasakan suasana hening Gua Maria ini dan mendengar sendiri kisah – kisah dari Ibu Ch. Maryanti.

Apabila Anda berniat berdoa di Gua Maria Grabag mungkin sedikit petunjuk dari kami bisa membantu. Dari arah Semarang ke Jogja, setelah daerah Pringsurat di sebelah kiri jalan ada daerah bernama Grabag. Ikuti jalan tersebut kemudian setelah sampai di pasar Grabag, Anda mengambil arah ke selatan menuju daerah Pakis. Tak kurang 400m dari pasar, di sebelah kiri jalan, Anda akan menemukan lokasi Gua Maria Grabag.
Kiranya, demikianlah sharing yang dapat kami ungkap. Jelas, tidaklah lengkap. Namun, kami berharap, jikalau masih diberikan saat barang sekejap, kami akan mengulang rasa takjub itu dengan penuh nikmat, apalagi jika bisa menginap. Sementara kenangan, biarlah tinggal tetap, untuk kami ceritakan kepada siapa yang ingin mencecap. Agar mereka pun pada suatu saat, entah bisa mampir atau melihat, ikut mendapat berkat, melalui Bunda bercahaya biru.

 Sumber : Klik
 Foto : dok. pribadi


Gua Maria Jatiningsih

 

Nah sekarang kita liat Gua Maria Jatiningsih, salah satu GM yang paling asri dan sejuk menurut ane, meski gak bisa mengalahkan sejuknya Gua Maria Lawangsih karena Lawangsih gua alami ya jadi pasti lebih sejuk dan asri. Meski GM jatiningsih gua buatan tapi Pemandangan disini sangat bagus karena GM Jatiningsih terletak di lereng sungai progo,sekalian ziarah sekalian wisata,hemat toh? wkwk...
  Bagi yang kesini harus cobain cuci muka pake air Tirta Wening Banyu Panguripan,,asli seger buanget.
langsung aja bagi yang mau kesini dan belum tau tempatnya nih liat petunjuk lokasinya g perlu panjang lebar karena admin g pinter nulis hahaha...

Lokasi Gua Maria Jatiningsih
Lokasi Gua Maria Jatiningsih, terletak di Jitar Pingitan, Sumber arum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, kira-kira 20km dari tengah kota Jogja ( tugu Jogja ).
Rute menuju ke Gua Maria Jatiningsih :
1. Dari Arah tengah kota Jogja, saudara ambil arah ke barat, menyusuri jl Godean, akan melewati Demak ijo, Pasar Godean, Gereja Paroki Klepu, baru Lokasi Gua Maria Jatiningsih. Apabila Saudara dari arah semarang, saudara bs mengambil rute alternatuf melewati jalur Borobudur-Kulonprogo, sesampai perempatan Pasar Kenteng, belok kiri, melewati jembatan sungai progo ( jembatan ngapak ) lurus sekitar 800 meter belok kanan.
2. Apabila saudara dari arah Purworejo, belok kiri di pertigaan Ngeplang ( asrama Brimob Sentolo ), lurus terus sampai ketemu perempatan Pasar Kenteng, belok kanan , melewati sungai progo, lurus skitar 800 meter, baru belok kanan.

Lokasi ane ambil langsung dari blog GM Jatiningsih,tapi g tau tu blog resmi atau blognya umat yang sekedar promosiin GM Jatiningsih karena itu blog cuma punya 4 posting  dan udah 1 tahun g update hhehe..
yang belum perna kesana dan mau cobain moga g kesasar kaya ane sama temen ane miko tukang anu wkwkwk


Sumber : dari berbagai sumber
Foto : dok. pribadi

Gua Maria Sancta Rosa Mystica




MAWAR SUCI BUNDA ALLAH TERBERKATI atau dalam bahasa latinnya, Sancta Rosa Mystica Mater Divinae Gratiae adalah salah satu gelar Bunda Maria, kini menjadi nama tempat ziarah umat Katolik di Indonesia.
Tempat Ziarah Sancta Rosa Mystica (lengkapnya adalah Tempat Ziarah Sancta Rosa Mystica Mater Divinae Gratiae - juga biasa disebut Gua Maria Rosa Mystica) merupakan tempat ziarah umat Katolik di Indonesia. Tempat ziarah ini mulai dibangun pada tahun 1999. Dari sekitar 80 tempat ziarah (Gua Maria) yang tersebar di Indonesia, 13 dari jumlah tersebut ada di Jawa Tengah dan Tempat Ziarah Sancta Rosa Mystica adalah salah satu yang termuda di antaranya. 


Gua Maria Sancta Maria Rosa Mystica ada di bawah naungan dan kepengelolaan Keuskupan Agung Semarang, berada di Lingkungan Fatima, Paroki Administratif St. Pius X Karanganyar dan terletak di Dusun Banyu Urip, Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.

Gua Maria yang berada di Bukit Banyuurip Kelurahan Delik Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang itu baru berusia muda. Namun, wahana kegiatan keagamaan umat Katolik itu sudah dikenal secara nasional. Tempat ziarah religius di Banyuurip tidak hanya dikunjungi umat Katolik, juga mereka yang menginginkan pemantapan iman dengan harapan mendapat berkah percaya diri untuk mengapai cita-cita. Salah satu tempat khasnya berupa Sendang Banyuurip, atau lebih dikenal dengan nama Sendang Mawar Gaib. Air di sendang itu konon bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Alasan lokasi itu dijadikan tempat ziarah bermula dari penampakan Bunda Maria dalam busana putih kekuning-kuningan dengan tiga kuntum mawar berwarna putih merah, dan kuning emas di atas jubahnya. Di gua inilahdiletakkan patung Bunda Maria berjubah putih dengan tiga kuntum mawar menghiasi jubah atasnya. Patung tersebut sumbangan dari seorang umat dari Semarang. Patung serupa juga diletakkan di Sendang Sumber Air Kesembuhan. Dia menuturkan, air di sendang tersebut dianggap sebagai air kesembuhan karena ada legendanya. Menurut legenda, di sana ada pasangan kakek-nenek yang berhasil mengobati seorang pangeran dari Surakarta dengan menggunakan air tersebut.
Pada jaman dahulu kala, ada seorang pangeran dari Surakarta yang melakukan perjalanan dengan niat menghadap Raja Pandanaran di Semarang, dia dikawal oleh para hambanya dengan mengendarai kuda. Tiba-tiba kuda sang Pangeran terperosok ke dalam jurang yang dalam, akibatnya sang Pangeran meninggal dunia. Para hamba berduka, tiba-tiba mereka didatangi oleh sepasang kakek-nenek, Kyai dan Nyai Mangunsari, menyuruh para hamba membasuh wajah Pangeran dengan air dari sendang dekat jurang, karena sang Pangeran belum tiba saatnya meninggal dunia.

Seorang hamba langsung membasuh wajah sang Pangeran dengan air sendang dan seketika itu sang Pangeran hidup kembali. Dengan ucapan terima kasih yang tak terhingga, sang Pangeran dan para hamba bersitirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Namun mereka heran karena kakek-nenek itu hilang seketika dari pandangan.

Atas pengalaman itu, Sang Pangeran menjuluki sendang tersebut dengan nama Sendang Banyuurip, dan desa itu sampai sekarang dikenal sebagai Desa Banyuurip. Hingga kini, secara turun-temurun, jika ada orang sakit dan percaya, maka diambilkan air dari Sendang Banyuurip sebagai sarana penyembuhannya.

Cerita lain tentang Gua Maria Mawar: pada suatu hari ada seorang dari Sampangan Semarang, yang menanyakan dimana letak Sendang Mawar Biru. Ketika dijawab bahwa di daerah itu hanya ada Sendang Banyuurip, tamu tersebut meyakini bahwa tempat itu adalah Sendang Mawar Biru, karena situasi jalan dan daerahnya persis seperti dalam mimpinya. Setelah memandikan dan memberi minum anaknya dengan air dari sendang itu, seketika anaknya yang sudah lama sakit itu menjadi sembuh. Oleh karena itu Sendang Banyuurip kemudian juga disebut Sendang Mawar Biru.

Gua di bukit tersebut pada zaman Belanda menjadi pos penjagaan Aniem (sekarang PLN) di Jelok. Pada zaman Jepang gua itu menjadi tempat persembunyian dan pertahanan. Di sini pula tiga putra daerah gugur dalam perang melawan penjajah.


GUA MARIA SENDANG SANCTA ROSA MYSTICA
Alamat: Ds. Banyuurip, Ds Jelok, Kec. Tuntang, Kab. Semarang (jalan Bawen - Salatiga). Paroki St. Paulus Miki, Jl. Diponegoro 34 telepon 0298 324076, Salatiga.
Kontak koster:  AS. Sadiyanto,  AY. Sutopo, hp: 08122529369
Koordinat GPS : S7°14'55.9" E110°28'53.6" akses jalan : S7°15'52.3" E110°28'5.3"
 
 
Sumber : Cekidot

Foto : Dok. Pribadi

Gua Maria Lawangsih



 


PENGANTAR
Suatu ketika ada peziarah yang bertanya kepada saya; “Romo, Goa Maria Lawangsih, begitu indah, eksotik, mempesona, dan penuh nuansa sakral yang membawa saya dalam kedamaian iman. Sungguh saya sangat tersentuh dengan Goa Maria Lawangsih. Sebenarnya siapa arsitek dan perancang Goa Maria Lawangsih ini Romo?” Saya terdiam, dan setelah mengambil nafas dalam-dalam, saya tersenyum mengatakan; “Tuhan sendirilah Sang Arsitek, Sang Perancangnya….”
DEMOGRAFI
Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh, Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.
SEJARAH
Goa Maria Lawangsih adalah Goa Maria yang pada awalnya adalah sebuah goa Lawa (Goa yang penuh dengan Kelelawar), yang memang diyakini sudah diketahui oleh penduduk sekitar sebagai tempat petani mencari pupuk dari kotoran Kelelawar. Sebelum ditetapkan sebagai Goa Maria, goa ini adalah sebuah goa alami biasa yang merupakan tempat tinggal kelelawar. Dalam bahasa Jawa kelelawar disebut “Lawa”. Goa ini dihuni oleh banyak kelelawar, maka tidak heran bila nama goa ini adalah Goa Lawa.Tidak diketahui secara pasti, kapan Goa Lawa ini dimasuki oleh penduduk.
Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi), namun setelah itu tidak ada perkembangan yang berarti sampai tahun 2008.
Pada bulan Juli 2008, Goa Lawa yang semula milik keluarga T. Supino (Ketua Stasi SPM Fatima Pelemdukuh), telah dihibahkan kepada Gereja. Pembangunan Goa Maria Lawangsih untuk menjadi tempat berdoa (Panti Sembahyang) adalah atas inisiatif Romo Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan ini yaitu Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr, setelah beberapa kali masuk dan meneliti kemungkinan Goa Lawa menjadi tempat doa. Pada awalnya, Romo Ignatius Slamet Riyanto, hanya ingin menjadikan tempat yang awalnya “dianggap keramat” oleh penduduk sekitar, menjadi tempat yang nyaman bagi umat sekitarnya untuk berdoa. Namun rupanya ada banyak orang yang tahu dari mulut ke mulut (Jawa: gethok tular) tentang keberadaan tempat ziarah ini, sehingga makin lama semakin banyak peziarah yang datang dari Bandung, Surabaya, Lampung, Jakarta, Semarang, dan kota-kota besar lainnya, bahkan berdasarkan data dari buku tamu yang disediakan beberapa kali ada peziarah dari luar negeri (Belanda, Perancis dan Australia) yang datang ke sana. 
Pembangunan yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh umat dan didukung keinginan umat untuk memiliki tempat berdoa di tempat terbuka dan memiliki sumber air, begitu besar, sehingga membuat hibah tanah dan Goa Lawa menjadi suatu pilihan yang menarik untuk ditindaklanjuti. Langkah yang diambil pihak Gereja adalah dengan dibangunnya goa tersebut menjadi suatu tempat berdoa yang diinginkan umat. Sejak saat itu, tanah di sekitar Goa Lawa dibersihkan, yang pada awalnya hanyalah sebuah lubang/goa kecil, tanah yang berada di sekitarnya digali, hingga akhirnya lubang di sekitar goa bisa menjadi seperti saat ini. Batu besar ( + 8m2) dan tanah yang menutup lubang goa perlahan-lahan dibongkar dan dibersihkan.
Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru:GOA MARIA LAWANGSIH.
Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawang dalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.
Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. Patung Bunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.
Perarakan “Mboyong Sang Ibu” diikuti oleh 700an umat Stasi SPM Fatima Pelemdukuh dan sekitarnya. Ekaristi yang dilakukan pada tanggal 01 Oktober 2009 diawali dari Gereja (yang berjarak 500 m), dengan mengarak patung Bunda Maria menuju Goa Maria Lawangsih. Semua umat mengarak Bunda Maria dengan penuh keheningan (wening ing bathin), berdoa di dalam batin mohon karunia Roh Kudus agar memberkati umat dalam peziarahan di dunia ini. Umat juga berdoa agar tempat peziarahan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat mereka menimba kekuatan iman, agar mampu menghadapi tantangan kehidupan ini. Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa dan iringan gamelan menambah aura rohani merebak di Goa Maria Lawangsih. Pukul 16. 00 WIB, Bunda Maria diberkati dan ditahtakan. Banyak umat meneteskan air mata, tatkala Sang Ibu, dengan penuh senyum mengundang umat untuk berdoa dengan perantaraannya.
Seusai Ekaristi, umat berhamburan berdoa di hadapan Bunda Maria dan berebut masuk ke dalam Goa Lawangsih, dimana kemahabesaran Allah sungguh nyata. Sebuah karya nan indah dari Sang Arsitek membuat umat terpana. Karya Tuhan sungguh mahaindah. Sebuah goa yang penuh dengan stalagtit dan stalagmit dengan gemercik air yang keluar dari sumber air di dalam Goa. Di sebelah kanan Bunda Maria Lawangsih, ada goa yang cukup luas, memanjang sampai kedalaman yang tak terhingga, penuh dengan suasana sakral. Di belakang Bunda Maria Lawangsih, terdapat goa yang lebih indah dengan sumber air di dalamnya. Sayang, goa ini agak sempit di luarnya, namun semakin ke dalam semakin luas dan penuh dengan pemandangan yang eksotik.
Akhirnya, saat ini umat Paroki SPM Tak Bernoda Nanggulan sudah memiliki Goa Maria Lawangsih sebagai rangkaian dari Goa Maria Pengiloning Leres yang sudah ada. 
CIKAL BAKAL GOA MARIA LAWANGSIH
Goa Maria Lawangsih merupakan langkah peziarahan iman umat Stasi SPM Fatima Pelemdukuh, yang selama ini berdoa kepada Bunda Maria di Goa Maria Pengiloning Leres (Cermin Kebijaksanaan), sebuah Goa Maria di atas Kapel Stasi SPM Fatima Pelemdukuh. Goa Pengiloning Leres adalah cikal bakal Goa Maria Lawangsih, merupakan goa alam, namun hanya kecil. Letak Goa Pengiloning Leres yang berada di atas Kapel SPM Fatima Pelemdukuh, tidak terlalu jauh dari Goa Maria Lawangsih.
Di samping goa, bertahtalah Patung Kristus Raja yang memberkati yang tingginya 3 meter. Di belakang goa terdapat ruang doa yang cukup luas, bersih, dan teduh. Goa ini berada lebih tinggi daripada Kapel Stasi SPM Fatima. Legenda yang berkembang mengatakan bahwa bukit di Goa Pengiloning Leres ini adalah (Jawa: gedogan) kandang Kuda Sembrani. Banyak orang mengalami peristiwa bahwa hampir setiap Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon mendengar suara gaduh, (Jawa: pating gedobrak). Konon katanya, goa ini dulunya dipakai oleh para makhluk halus sebagai kandang kuda Sembrani. Hal ini terbukti dengan adanya sebuah mata air di bagian bawah bukit yang bernama “benjaran” yang berarti tempat minum kuda.
Mengingat tempatnya yang jauh dan terpencil dari kota Yogyakarta, wajar bila Goa Maria Pangiloning Leres tidak banyak dikenal oleh masyarakat di luar Stasi Pelem Dukuh. Medan yang cukup dijangkau karena jalan turun naik yang agak curam dan rusaknya sebagian jalan pada waktu itu menjadi alasan sedikit orang berkunjung ke Goa Maria Pengiloning Leres. Padahal, ada banyak hal-hal yang menarik terdapat di sana. Hal yang hanya terdapat di Stasi Pelem Dukuh, Stasi yang kaya akan pemandangan alam yang asri dan goa alami nan indah. Di bawahnya terdapat Kapel (Gereja) yang sebagian dindingnya adalah Batu Karang (asli) yang ingin menunjukkan bagaimana Gereja yang dibangun Yesus di atas Batu Karang. Bila kita melihat segi arsitekturnya dari sisi luar Kapel, mungkin saja akan kalah bila dibandingkan dengan gereja yang terdapat di kota besar lainnya. Namun, bila kita masuk ke dalam Gereja kita akan melihat beberapa lukisan yang indah dimana Gerbang Kerajaan Surga tergambar indah di dinding. Adapula kisah pembangunan yang penuh perjuangan karena Gereja sulit mendapatkan tanah pada waktu itu. Namun sempat pula Romo YB. Mangunwijaya, Pr sempat meneliti dan mereka-reka arsitektur Kapel Stasi Pelemdukuh yang alami. Namun tidak ada informasi yang tepat, mengapa Romo YB. Mangunwijaya, Pr tidak melanjutkan arsitektur di Kapel tersebut.
Arsitektur yang digunakan oleh Kapel menarik sekali. Penataan batu-batu alami di sisi barat Kapel menambah keasrianya. Pemertahanan bentuk alami batu kapur tanpa tembok ini adalah sesuai dengan anjuran Romo YB. Mangunwijaya yang merupakan arsitek handal. Di belakang Altar dihiasi dengan lukisan-lukisan Gunungan Wayang yang menggambarkan Kerajaan Surga, lukisan Rusa dengan hamparan rumput yang luas menghijau juga terpampang di sebelah kiri altar, di belakang patung Bunda Maria. Di atas sana terpampang gambar lima roti dan dua ikan, yang melambangkan makna berbagi sebagai ungkapan dan perwujudan iman umat.
Bila dilihat dari bawah, Goa Maria Pengiloning Leres ini nampak seperti bahtera. Bahtera Nabi Nuh yang pada zaman dahulu telah menyelamatkan manusia dan mahkluk-makhluk lainnya di atas bumi dari air bah. Bentuk bahtera ini kemudian semakin disempurnakan dengan adanya patung Kristus Raja Semesta Alam sebagai nahkoda bahtera tersebut. Patung ini adalah karya dari Romo A. Tri Wahyono Pr.
Sekarang, lengkap sudah penampilan bahtera tersebut, ada Tuhan Yesus sebagai nahkoda yang selalu membimbing dan memberkati semua umat Katholik di Stasi Pelem Dukuh. Tempat ini kelak menjadi Golgota dan tempat Bunda Maria Berduka Cita memangku Sang Putra yang telah wafat tersalib (pieta). Goa Maria Lawangsih menjadi awal peziarahan umat, menimba kekuatan melalui Bunda Maria, mengikuti jalan Salib Tuhan Yesus dan menuju pada Golgota. Di sana Kristus Raja telah menanti dengan berkatNya yang melimpah. 
INFRASTUKTUR
Kekhasan Goa Maria Lawangsih yakni eksotisme goa alamnya. Goa ini sungguh merupakan goa alam kedua di Keuskupan Agung Semarang setelah Goa Maria Tritis Wonosari, Gunungkidul. Seperti yang kita ketahui, tidak banyak tempat doa yang berupa goa yang merupakan goa alami. Kalau pun ada, tidak sebanyak goa buatan. Goa Lawangsih merupakan salah satu goa alami tersebut, goa ini cukup besar, lengkap dengan sungai kecil yang mengalir di dalam goa dan dihiasi oleh stalaktit stalagmit yang indah. Kesan pertama para peziarah ketika kita datang adalah suasana hening yang menyejukkan hati, jauh dari keramaian. Suara gemericik air, kicauan burung, tiupan angin, udara yang sejuk akan membuat kita semakin mensyukuri indahnya ciptaan Tuhan. Suasana ini lah yang membawa kita pada suatu situasi yang sangat mendukung bila ingin memanjatkan doa kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Goa Lawangsih juga menambah khasanah dan perbendaharaan tempat peziarahan yang ada di Indonesia umumnya dan Keuskupan Agung Semarang khususnya (http://www.wikipedia.com.)
Goa Maria Lawangsih sama sekali belum tersentuh oleh pembangunan secara modern, sungguh-sungguh alami. Selain itu, goa ini dibangun oleh umat yang secara sukarela setiap hari bekerja bakti, bahu membahu, saling mendukung dengan kerja tangan mereka. Dengan senyum, canda, dan penuh semangat iman, selama hampir satu tahun umat mengolah tanah grumbul (semak belukar) menjadi tempat peziarahan Maria yang sangat indah, dengan bukit-bukit batu di sekitar goa, dengan stalagtit dan stalagmit di dalam goa, dengan gemercik air yang mengalir tiada henti, meski kemarau yang sangat panjang sekalipun 
Pemandangan alam sekitar juga sangat indah. Sejak masuk ke daerah Nanggulan dan selama perjalanan 13 km dari Nanggulan menuju Goa Maria Lawangsih, peziarah akan melihat pemandangan yang indah, perbukitan Menoreh, Gunung Merapi, dan jika melihat arah selatan akan kelihatan pemandangan Pantai Laut Selatan di kejauhan. Pada malam hari, peziarah akan melihat pemandangan kota Yogjakarta dengan lampu-lampu yang menambah suasana indah di malam hari. Di sekitar lokasi Goa Maria, juga banyak pemandangan indah, banyak pohon-pohon rindang yang semakin menambah asri tempat Bunda Maria bersemayam, menanti umat berdoa dengan perantaraanNya. Keheningan dan suara gemercik air menjadi pendukung peziarah semakin dekat dengan Allah Sang Pencipta.
Sejauh mata memandang, kita akan menyaksikan rindangnya pohon dan hamparan sawah yang menghijau. Sesekali kicau burung yang bernyanyi memanjatkan syukur kepada Sang Pencipta juga terdengar. Di bawah goa, terdapat sungai yang mengalir membelah dusun. Jauh dari kesan sungai di kota pada umumnya, karena sungai ini begitu jernih walaupun telah melewati luasnya hamparan ladang warga. Air ini tidak biasa digunakan untuk minum, tetapi digunakan untuk kebutuhan pengairan sawah penduduk. Walaupun terkadang dulunya bila sumber-sumber air sudah mengering, sungai ini digunakan untuk mencukupi semua kebutuhan warga. Sekarang, sudah ada kamar mandi sebagai fasilitas penduduk maupun peziarah yang memanfaatkan air dari dalam goa yang jernih. Air ini biasa untuk minum ataupun memenuhi semua kebutuhan hidup. Jadi sungai kecil di bawah goa yang dulunya dipergunakan untuk mandi, Sekarang dikhususkan untuk mengairi sawah.
Di belakang Patung Bunda Maria, terdapat lorong goa yang sangat panjang, dalam dan indah dengan stalagtit dan stalagmit yang mempesona, di dalamnya juga terdapat sumber air yang mengalir tiada henti, jernih dan sejuk, yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar goa Maria. Kelak air ini akan ditampung dan dijadikan tempat “menimba air kehidupan” dan untuk kebutuhan sehari-hari. Sungguh ajaib, Bunda Maria juga memberikan berkatNya. Di depan Bunda Maria, terdapat goa yang cukup lebar, memanjang sampai pada kedalaman yang tak terhingga. Namun sayang, 300 meter setelah pintu goa, sudah menyempit, meski di dalam sana terdapat tempat yang luas dan pemandangan yang sangat indah. Perlu alat modern untuk membuka beberapa batu alam yang menutupi lorong-lorong ke dalam.
Fasilitas untuk peziarah secara umum sudah tersedia meskipun dalam nuansa kesederhanaan. MCK Kamar mandi, WC/toilet, sudah tersedia dengan air yang melimpah. Air jernih dari bawah Bunda Maria dialirkan menuju sebuah bak penyaring yang nantinya menjadi air yang bisa dipakai peziarah untuk dibawa pulang atau untuk diminum langsung. Air ini juga dialirkan ke kamar mandi di bawahnya, sehingga air di kamar mandi/WC sangat jernih dan layak untuk para peziarah. Jalan menuju Goa Maria Lawangsih juga sudah layak untuk menjadi jalan bagi kendaraan peziarah. Pada bulan Nopember 2010, jalan yang melingkar di sekitar Goa Maria Lawangsih sudah diaspal oleh warga di Purwosari. 
Perjalanan menuju Goa Maria Lawangsih dapat di tempuh dengan mengendarai sepeda motor, minibus, atau mobil pribadi. Sampai sekarang, bus besar masih sulit untuk menjangkau Goa Maria Lawangsih, karena adanya beberapa tikungan kecil. Apabila menggunakan bus besar/pariwisata, peziarah dapat transit di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Karang, Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta. Apabila menggunakan bus umum, peziarahan dapat naik bus umum baik dari kota Jogja, Wates, Muntilan dengan mengambil jurusan Nanggulan. Turun di perempatan Kenteng, naik ojek 25 menit sudah sampai lokasi (pintu gerbang peziarahan Goa Maria Lawangsih). Apabila peziarah datang menggunakan mobil, dari arah manapun, menuju Nanggulan. Di perempatan Kenteng ke arah Barat 13 km, dengan jalan hotmix (8 km) dan dilanjutkan jalan desa (aspal) 4 km. Minibus dan mobil pribadi bisa mencapai Goa Maria Lawangsih 15-30 menit, dan bisa diparkir di sekitar Goa. Peziarah cukup berjalan 50-100 meter dari tempat parkir, dari pintu masuk ke tempat ziarah, peziarah cukup berjalan 25 trap tangga dari semen. (Catatan: peziarah sudah bisa mencapai Goa Maria Lawangsih dengan mengikuti rambu penunjuk jalan dari traffick light di Kenteng sampai dengan lokasi Goa Maria Lawangsih).
Tulisan ini dibuat dan dirumuskan oleh Panitia Pembangunan dan Pengelola Goa Maria Lawangsih dari tulisan Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr
Info lebih lanjut dapat dibuka di: guamarialawangsihnanggulan.blogspot.com, atau facebook:guamarialawangsih.nanggulan@gmail.com).
NB. Contact Person: Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. Pastoran SPM Tak Bernoda Nanggulan
Karang, Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo, YOGYAKARTA, 55671, Telpon 0857 4371 7676

Foto : dok pribadi


                            

Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono


Bunda Pemersatu-Gedono adalah pertapaan pertama rubiah Ordo Cisterciensis Observansi Ketat (OCSO) atau umumnya Trappist di Indonesia, didirikan pada tahun 1987. Pembangunan pertapaan yang dimulai tahun 1985 merupakan salah satu karya alm. Romo YB Mangunwijaya, Pr. Seperti karya Rm. Mangun lainnya, gaya arsitekturnya sangat berkepribadian Indonesia.

Arsitektur monastik Cisterciensis melambangkan keserasian dan keindahan ilahi. Gedung2 dan bangunan2 dalam biara monastik dibangun dengan sederhana dan bersahaja. Sungguh pun demikian, pertapaan ini sangat menarik – bahkan oleh karena kesederhanaanya itu sendiri.

Suasana teduh, hening, dan sunyi di pertapaan ini sungguh menjadi daya tarik utama. Apalagi buat orang kota yang selalu berpacu dengan waktu. Di tempat ini, waktu terasa berhenti. Kesunyian merupakan sarana yang mempermudah setiap orang untuk bertemu dan berdialog dengan Tuhan dan menjadikan Allah sungguh sebagai pusat hidup.

 
Isi Copas Sana-sini | Contact Cekidot hehe